Bertautnya Cinta Beatrix & Salvador

Dari Asisi, Bali hingga Dili

Sebuah pertemuan di mobil jemputan SD (Sekolah Dasar) Asisi, Tebet, Jakarta Selatan  mengawali perjalanan panjang kisah kasih antara Beatrix dan Salvador. Suatu kebetulan karena Salvador yang tinggal kelas dan Beatrix kecepatan masuk Sekolah Dasar.

Video: Beatrix & Salvador

Semasa SMA keduanya berada di tempat yang berbeda. Salvador di SMA Gonzaga di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan, dan Beatrix di SMA Asisi, Tebet. Berlanjut kemudian, keduanya mencari jalan hidup masing-masing pula. Beatrix berkarier sebagai wedding sales manager di  Conrad Bali, sementara Salvador menerima beasiswa PHD International Law – Charles Darwin University, Australia.

“Kami dulu pernah kontak melalui facebook messenger  di tahun 2009. Tapi karena Salvador harus pergi dengan temannya makan piza, jadi dia tidak lagi mengontak  Beatrix,” ucap Beatrix, wanita yang lahir di  Jakarta 27 Januari 1988 kepada Weddingdreams.id.

Bertahun setelahnya,  pada 3 Januari 2016 pada sebuah acara pernikahan, Beatrix dan Salvador bertemu di gereja Asisi. Saat itu Beatrix datang bertugas untuk menyanyikan Mazmur. Sementara Salvador datang sebagai tamu undangan bersama keluarganya, dan melihat Beatrix.

Saat ada pengumuman pernikahan yang dibacakan oleh lektor, Mama Salvador sempat menyentuh bahu Salvador, “Giliran kamu kapan?” tanya ibu yang memiliki tiga anak laki-laki itu.

Setelah pertemuan di gereja Asisi tahun 2016 itu, Salvador tidak lantas menghubungi Beatrix. Namun setelah tujuh hari berlalu ,Salvador menghubungi Beatrix melalui aplikasi chatting whatsapp.

“Oi bu Menteri, udah dapet posisi apa dari Jokowi?” sebuah pesan awal dari Salvador, laki-laki yang lahir di Dili,Timor Leste pada 15 Juni 1987.

Sebuah pertanyaan yang berasal dari pertarungan politik antara Jokowi dan Prabowo tahun 2016. Pertanyaan itu dijawab lugas oleh Beatrix, “Udah lo ga usah banyak basa basi, kapan lo nikahin gw”.

Jawaban singkat dari Beatrix itu langsung tepat mengenai sasaran, karena pada tanggal 11 Januari 2016 keduanya resmi terikat dalam sebuah komitmen, menjalin hubungan serius. Namun, walaupun keduanya sudah berkomitmen, tapi Beatrix dan Salvador berada di tempat yang berbeda. Ada jarak yang terbentang di antara keduanya yaitu Bali dan Dili. Keduanya baru bertemu di bulan ketiga di Jakarta. Beatrix terbang dari Bali dan Salvador datang dari Dili.

Hubungan keduanya tidak lepas dari pasang surut, Beatrix mmengakui, sang Mama, Theresia, seorang AKBP (Letnan Kolonel polisi) yang cukup keras menentang hubungan keduanya.

Pasalnya, Salvador yang awalnya sebagai dosen di Dili harus mengambil cuti karena Salvador mendapatkan beasiswa S3 di Charles Darwin University, Australia. Salvador tentu tak mau menyia-nyiakan beasiswa yang ditawarkan padanya. Karena kondisi itu,  mama Beatrix menentang. “Takut anak susah”, sebuah kekuatiran seorang ibu pada putri sulungnya. Di tambah dengan situasi keduanya harus menjalin hubungan jarak jauh, dan memiliki kesempatan bertemu dalam rentang waktu hanya beberapa bulan sekali.

Namun segala surut pun berlalu. Dengan cara Tuhan, keduanya bisa bersatu untuk menempuh hidup yang baru, dan Tuhan merestui keduanya untuk saling mengikat janji, tetap saling kasih setia, dalam untung dan malang, dalam sakit dan senang. Selamat menempuh hidup baru ya Beatrix dan Salvador.  <<

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *