Silaturahmi Para Entrepreneur yang Melahirkan Bisnis

Tembang Keroncong Kemayoran mengumandang, saat kami melangkah masuk ke arena pertemuan Graha Hartika, Sabtu 22 Juni 2019. Hari itu, komunitas Entrepreneur Penvile (EP) menggelar Halalbihalal, di gedung yang berdiri megah di jalan Kemakmuran, Bekasi, Jawa Barat itu.

“Karena hari ini bertepatan dengan hari ulang tahun Jakarta ke-492, anggota komunitas EP pun datang dengan kostum khas Betawi. Pria dengan baju Koko dengan berselempang sarung, dan wanitanya sebagian berkebaya Encim,”ujar Yusy, seorang wanita pengusaha apotek dan parfum, salah satu panitia acara.

Tak heran jika panitia pun sudah menyiapkan lagu-lagu asli Betawi untuk memeriahkan acara Halalbihalal sore hingga malam Minggu itu. Silih berganti lagu-lagu berjudul Dayung Sampan, Jali-jali, Kelap-kelip, Keroncong Kemayoran, Kicir-kicir,Lenggang-lenggang Kangkung, Ondel-Ondel, Ronggeng Jakarta, Sirih Kuning, Surilang, Surilang Jot-njotan, mengalun mengiringi acara ramah-tamah.

Komunitas EP ini berawal dari WAG (Whatsaap Group)yang dimulai oleh 4 pengusaha yang berdomisili di kawasan Pejaten, Kemang, Jakarta Selatan.

“Awalnya Group WA ini bernama Penvil Kemang, rekan kami Setyadi (alm) yang menamainya,” ujar Alexander Felder,penasihat komunitas EP ini.

Drs Setyadi GS,MM, semasa hidupnya adalah dosen di Universitas Trisakti, Jakarta. Ia juga seorang konsultan interior dan kontraktor, meninggal sekitar 3 bulan lalu.

“Nama WAG itu sesuai dengan kebiasaan almarhum mengundang beberapa teman akrab beliau, yaitu saya, Erry dan Indra untuk kongkow-kongkow, di tempat nongkrong untuk dinner, sambil diskusi bisnis,”tutur Alex Felder, pengusaha yang juga pengelola Graha Hartika.

Sepeninggal almarhum, WAG ini disepakati oleh kami bertiga untuk dilanjutkan, dan diubah namanya menjadi EP. Kini EP beranggotakan lebih dari 100 orang.

“Kriteria bagi calon anggota EP di ataranya seorang entrepreneur/intrapreneur, seorang profesional, tokoh masyarakat, mereka yang punya akses ke pemerintahan/konglomerasi, mereka yang punya jiwa entrepreneur. Dan yang utama adalah kehadirannya dapat memberi “warna”bagi komunitas EP. Dan tidak berpotensi mengundang “masalah” dalam grup,” ujar Alex Felder yang juga penulis buku ini.

Buku-buku yang ditulisnya, di antaranya berjudul 1001 Tipa-Tipu, 1001 Dosa Orang Tua pada Anak, dan 1001 Cara Sukses Saat Pensiun. Pria berdarah Jawa, Minang dan Switzerland ini menegaskan Halalbihalal adalah salah satu ajang silaturahmi yang tak hanya bersifat religius, namun juga tepat untuk menjalin relasi.

“Karena bisnis adalah efek dari silurahmi. Semakin banyak silaturahmi, semakin banyak peluang bisnis yang bisa dijalankan,”ujar Agus Hariyadi, anggota EP.

Tersingkirnya Bisnis Restoran

Tempat-tempat asyik sebagai tempat bersilaturahmi, selalu diminati. Graha Hartika, satu di antaranya.

“Gedung ini semula adalah restoran. Namun saat ini masyarakat lebih memilih makan di restoran yang ada di mal-mal. Setelah capek shopping, lalu tinggal pilih makanan yang disuka,” ujar Alex.

Fenomena itu membuat Alex dan Harty Muntaco, pemilik Graha Hartika mengubah konsep bisnis mereka. Restoran diubah menjadi gedung pertemuan untuk rapat, seminar, dan pesta pernikahan.

“Hartika, merupakan gabungan dari nama ibu Harti dan Cantika, putri saya,”ujar Alex Felder.

Cantika Ramona Felder adalah putri dari Alex Felder dan Minati Atmanegara, artis sekaligus pengusaha Senam Body Performance.

“Graha Hartika merupakan tempat Wedding Hall dan Restoran di Bekasi, profesional dalam layanan jasa Pernikahan, Meeting Room, Catering dan Nasi kotak,”ujar Bu Harti berpromosi.

Silahkan simak video wawancara weddingdreams.id dengan Bu Harti di bawah ini ya. <<

kunjungi Graha Hartika di sini: kunjungi Graha Hartika di sini:

 

Thank you to our hosts! You were all so gracious and kind. We had a wonderful evening and made many new friends. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *