Nuansa Toraja, Dayak dan Bangka di Pernikahan Christian & Paula

Berawal dari pertemanan biasa, sepasang remaja kemudian saling jatuh cinta. Sepasang insan itu, Robertus Christian dan Paula Selpianti Litha Pasau, kemudian sepakat mengucap janji setia selamanya di altar gereja Katolik Trinitas, Paroki Cengkareng, Jakarta, Minggu 28 April 2019.

Warna-warni bunga menghias altar gereja Trinitas. Nuansa Paskah masih terasa kental, di sayap kiri altar, berdiri tegak spanduk bertulikan “Kebangkitan Kristus Pancaran Hikmat Allah”. Membuat sedikit berbeda, ada dua tiang berhiaskan ornamen manik-manik khas suku Toraja, di Sulawesi Selatan menjuntai, menandai sedang dirayakannya sebuah upacara pernikahan.

Sang pengantin wanita, Paula, mengaliri darah Toraja dari sang Ayah, Pius Sente Limbu. Sementara sang Bunda, berasal dari suku Dayak, Kaliantan Barat. Dan pengantin pria, Christian, kedua orang tuanya, Johanes J Tjandra dan Paula Nuryani, berasal dari Bangka, Sumatera.

“Seperti pepatah asam di gunung, garam di laut, bertemu di belanga. Seperti kami orang tuanya, saya dari Kalimantan Barat, papanya dari Sulawesi, berjodoh di pulau Jawa. Begitu pula Paula dan Christian,” ujar Cicilia Anna Nanthy, Ibunda Paula.

Upacara perayaan Ekaristi dan penerimaan Sakramen Perkawian  Chris dan Paula, dipimpin oleh 3 orang rohaniwan, yaitu Uskup Mgr Petrus Boddeng Timang, Pastor Gregorius Basir Karimanto, OMI dan Pastor Robert. Uskup Petrus Boddeng Timang yang saat ini bertugas sebagai Uskup di Banjarmasin, kalimantan Selatan, datang khusus ke Cengkareng untuk memberkati pernikahan Christian Paula. Beliau pria berdarah Toraja yang lahir di Malakiri, Palangi, Sa’dam Balusu, Toraja Utara, Sulawesi Selatan.

Pernikahan Christian & Paula di Minggu Kerahiman Ilahi

Alunan merdu  tembang ‘Berserah Setia’ dilantunkan  kelompok vokal Family Coir, dipimpin Yulius Const Sai, mengiringi misdinnar, imam, kedua mempelai, orang tua, saksi dan kerabat, berarak menuju depan altar gereja.

Berbahagia, bergembira
Dua sejoli berseri-seri
Berbahagia, bergembira
Sehidup semati ku berjanji hidup bahagia…

Dalam homili  Holy matrimony Chris & Paula, Uskup Boddeng Timang mengungkap, kedua mempelai memilih menikah pada hari Minggu ke-2 Paskah. Oleh Paus Yohanes Paulus ke-2. hari itu dinyatakan sebagai Hari Minggu Kerahiman Ilahi.

“Saat dimana Yesus bangkit di tengah murid-muridnya yang sedang gelisah dan galau. Saat muncul, Yesus berucap Salam Damai bagimu,  yang kemudian menjadi salam para umat Kristus. Maka sungguh istimewa, pengantin memilih hari ini sebagai rumah damai, dimana Allah sendiri dengan kuasanya mengatasi segala ketakutan, kegalauan. Karena Allah sumber damai sejahtera,”ujar Uskup Petrus Boddeng.

Bapak Uskup yang khusus datagd ari Bannjarmasin ini mengungkap, tentang damai dan kebahagiaan yang dicari setiap orang. Kebahagiaan dan kedamaian yang bukan didapat dari harta, kekuasaan atau asal-usul seseorang, tapi atas kuasa Allah, saling mengasihi satu sama lain dan  mendapatkan damai sejahtera karena Katolik.

“Sering orang datang mengeluh, karena belum juga mendapat momongan, setelah sekian lama menikah. Apakah anda sering berdoa untuk meminta? Karena Allah itu sumber anugerah kasih, kesetiaan, dan pengampunan yang akan diberikn pada mereka yang setia dan meminta dalam doa,” ujar Uskup Petrus.

Usai pemberkatan, kedua mempelai menghadap orang tua mereka. Pius Sente Limbu mencium kening putrinya, lalu memberi tanda salib dengan jari jempol kanannya pada kening Paula yang tampakmenitikkan air mata.

Saat perarakan persembahan, diiringi petikan Sape’ dari Daniel, sebuah sanggar seni Dayak di Jakarta, mengiringi 3 dara Dayak yang menari, mengantar persembahan. Beberapa kerabat yang mengenakan busana adat Toraja,  menyertai dengan membawa bahan-bahan persembahan.

Pesta pernikahan dua sejoli ini, berlanjut di Minggu petang di Taruma Grand Ballroom, Universitas Tarumanagara, Grogol, Jakarta Barat. Pesta bernuansa internasional ini berlangsung meriah.

Yohanes Tjandra, orang tua mempelai pria begitu sumringah menyapa para tetamu yang hadir.

“Christian, anak bungsu  dari 3 putra-putri. Satu-satunya laki-laki, dan Paula, satu-satuya menantu perempuan kami,” ujar Yohanes Tjandra bahagia.

Apalagi, sang menantu , sama dengan ibunda dari Christian. Keduanya bernama baptis Paula. Yohanes Tjandra mengungkap, ia memboyong keluarganya pindah ke Tangerang pada tahun 2000, setelah ia pensiun dari PT Tambang Timah di Bangka.

Selamat berbahagia untuk Paula dan Christian!

 

 

Editor: Christina Lomon Lyons
Design & photography: Michael Lyons
Video & Photography: Boy Bidayuh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *